MAHA SAPARDI DJOKO DAMONO

MAHA SAPARDI DJOKO DAMONO

SILA pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, disingkat YME. Kalau kita menuruti kaidah berbahasa, cara penulisan itu keliru. Kata ”maha” tidak bisa berdiri sendiri kalau diikuti kata dasar, jadi seharusnya penulisannya adalah ”Mahaesa”. Di samping itu, kata ”yang” tidak seharusnya diawali dengan huruf kapital. Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Pemurah karena ”pengasih” dan ”pemurah” bukan kata dasar, tapi berasal dari kata ”kasih” dan ”murah” meskipun kata dasar ”murah” ini tidak berkaitan dengan harga. Kata ”murah” akan menjadi lain artinya jika diberi awalan ”pe-”, artinya suka memberi dan sangat baik hati.

Tapi istilah itu akan bermasalah jika kita menyingkatnya menjadi YM karena YM adalah singkatan Yang Mulia, penyebutan untuk orang yang kita hormati. ”M” dalam singkatan itu bukan maha. Apakah yang maha hanya Tuhan? Tidak juga. Ada mahasiswa, mahasiswi, mahaguru, mahapatih, dan sebagainya semuanya manusia yang ”maha”. Orang-orang yang berlabel maha kita anggap unggul dibandingkan dengan yang lain. Maharani adalah ratu perempuan, meskipun bisa juga berarti nama tetangga di sebelah rumah yang oleh ibu dan bapaknya diharapkan menjadi sosok yang unggul. Maharesi adalah resi yang unggul; maharupa artinya elok sekali. Alinea pertama tulisan ini mengacu pada beberapa pengertian: pertama, ”maha” adalah bentuk terikat, maka tidak bisa berdiri sendiri; kedua, segala sesuatu yang ”maha” mengandung arti sangat, amat, dan unggul.

Namun perlu diingat bahwa ternyata ”maha” hanya bisa digabungkan dengan kata yang menunjukkan keunggulan. Maharupa berarti elok parasnya, padahal sebenarnya ada muka yang buruk. Terdengar aneh ternyata kalau menggabungkan ”maha” dengan sifat yang negatif. Tidak ada kata mahaburuk atau mahapayah atau mahagoblok atau maharunyam meskipun kita sadar bahwa ada di antara kita ini, baik orang maupun benda, yang memang benar-benar buruk, payah, runyam, dan goblok. Tampaknya, ”maha” juga lebih sesuai kalau digabungkan dengan pengertian yang ada kaitannya dengan masa lampau. Maharesi, maharana (maharana berarti perang besar, bukan maharani laki-laki), maharaja, dan mahadewi adalah beberapa contoh sebutan yang kita kenal saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *