Langkah Membentuk Identitas Gender

Gender adalah peran yang dibangun dalam diri anak berdasarkan karakteristik jenis kelamin dan aturan masyarakatnya. Usia prasekolah merupakan periode sensitif untuk belajar mendefinisikan gender ini. Identitas gender yang proporsional–apakah anak dididik sebagai laki-laki atau perempuan–akan membantu pembentukan konsep diri yang positif pada anak. Juga, hubungan interpersonal yang wajar dengan orang lain.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Nah, agar anak dapat memiliki identitas gender yang proporsional, inilah 4 langkah yang perlu kita lakukan: • KENALKAN -ENIS KELAMIN ANAK SEDINI MUNGKIN Ketika anak mulai memerhatikan kondisi tubuhnya, kita bisa memberikan penjelasan. Misal, saat mandi, kepada anak perempuan, katakan bahwa itu alat kelaminnya disebut vagina, atau penis untuk anak lelaki. Pada saatnya, anak akan bertanya, mengapa alat kelaminnya berbeda dengan alat kelamin kita misalnya. Jelaskan saja bahwa hal itu menunjukkan dirinya adalah perempuan (atau laki-laki), bahwa alat kelamin anak perempuan dan lelaki memang berbeda bentuknya.

Di usia 5 tahun, anak diharapkan sudah memiliki pemahaman akan identitas kelamin bahwa “saya lelaki” atau “saya perempuan”. Ia pun tahu bahwa anak lelaki dan perempuan itu berbeda; anak perempuan punya vagina, bukan penis. Kita pun boleh menerangkan lebih lanjut tentang perbedaan secara biologis ini yang merupakan kodrat. Anak perempuan nantinya akan memiliki payudara dan bokong yang lebih besar daripada laki-laki. Kemudian anak perempuan pun nantinya akan mengalami menstruasi, hamil, dan menyusui seperti Mama, sedangkan laki-laki tidak demikian. •

BERIKAN POLA ASUH YANG PROPORSIONAL Maksudnya, pola asuh yang tidak mengotak-kotakkan antara laki-laki dan perempuan dalam hal mendapatkan kesempatan untuk bereksplorasi dan belajar. Sederhananya, anak laki-laki tidak hanya boleh main mobil-mobilan, pistol-pistolan, tetapi tidak masalah jika ingin bermain dengan boneka atau alat memasak. Sebaliknya, anak perempuan boleh saja main mobil-mobilan, pistol-pistolan, tak hanya main boneka atau masak-masakan. Mengapa?

Karena mainan atau benda sebetulnya tidak memiliki je nis kelamin, tetapi kitalah yang membangun konsep feminin dan maskulin pada benda-benda itu. Misalnya, boneka bagi anak-anak lelaki bisa dijadikan kawan atau ia berperan sebagai “papa”. Sedangkan pistol-pistolan bagi anak laki-laki (juga perempuan) adalah sebagai alat perlindungan bagi siapa pun, bukan untuk menyerang dan berbuat jahat. Inilah yang dimaksud dengan proporsional.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *