Memahami Skrining Pendengaran Pada Bayi Bag3

Namun otitis media yang kronik dan berat dapat menyebabkan ketulian permanen. ? Bayi yang terlalu lama di ruang NICU. Penyebabnya bisa lantaran mengalami infeksi berat sehingga harus mendaat perawatan di rumah sakit. Infeksi berat ini bisa diakibatkan kelainankongenital yang dibawa sejak di rahim. Atau bayi memiliki kadar bilirubin dalam darah lebih dari 10%.

Baca juga : Kerja di Jerman

Pada kondisi ini, bayi diduga mengalami infeksi berat, hemolisis autoimun (yaitu sel-sel darah putih menghancurkan sel-sel darah merah), atau kekurangan enzim tertentu. Jika tidak segera ditangani, bilirubin dapat me racuni otak (acute bilirubin encephalopathy). Kondisi tersebut dapat juga merusak saraf sehingga menyebabkan tuli, cacat, terhambatnya pertumbuhan hingga kematian. Jadi sepakat ya Ma, kalau skrining pendengaran memang sangat penting.

Waspada Bila Sulit Bicara

Gangguan pendengaran terkadang baru diketahui saat anak sedang belajar bicara di usia 2 tahunan. “Kalau usia ini anak tampak belum bisa bicara, biasanya akan dilihat, apakah karena ada gangguan pendengaran atau hanya kurang stimulasi. Dokter umumnya juga akan melakukan tes pendengaran. Sebab, anak yang mengalami gangguan bicara, sering kali berawal dari gangguan pada  pendengarannya , ” jelas Rita. Jadi, jika sampai 2 tahun anak belum bisa bicara atau belum bisa merangkai dua kata, tak ada salahnya dikonsultasikan kepa da dokter ya, Ma. Mungkin hasilnya si kecil baik-baik saja, namun bila memang ada gangguan pende ngaran, ia dapat memperoleh penanganan yang tepat.

Tentang Tes Pendengaran

  1. merupakan bagian dari pemeriksaan fisik menyeluruh pada bayi dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir. 2. Oto Acoustic Emission (OAE) adalah pemeriksaan menggunakan alat OAE yang dilakukan 10 detik per telinga, guna mendeteksi adanya hambatan di saluran telinga luar, di cairan tengah, dan kerusakan rambut sel di rumah siput ( koklea). Hasil pengukuran “pass” berarti fungsi pendengaran normal, dan “failed/efer” jika perlu pemeriksaan ulang. 3. Branstem Evoked Response Auditory (BERA) atau Auditory Brainstem Response (ARB) , untuk mendeteksi adanya kelainan di koklea, sistem saraf pendengaran, dan jalur auditori pada stem batang otak. Umumnya dilakukan pada balita dengan keterlambatan bicara (delayed speech), memiliki cacat ganda,dan autisme. Tes ini juga bisa menentukan jenis ketulian, bila ditemukan kelainan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *